Di berbagai daerah di Indonesia, ada tradisi indah menjelang masuknya bulan Ramadhan. Warga kampung, tua dan muda, berkumpul di masjid atau mushola setempat untuk melakukan kerja bakti besar-besaran. Ada yang menyebutnya "beberes masjid", "kuramasan", atau istilah lokal lainnya.
Semangat gotong royong ini luar biasa. Dinding-dinding dibersihkan dari sarang laba-laba, kipas angin dicuci, kaca jendela dilap hingga kinclong, dan area kamar mandi disikat habis-habisan. Ini adalah simbol pembersihan diri; sebagaimana kita membersihkan fisik bangunan masjid, kita juga bersiap membersihkan hati menyambut bulan yang suci.
Salah satu agenda "beberes" yang paling berat namun krusial adalah menangani karpet masjid. Gulungan-gulungan karpet yang besar dan berat harus dikeluarkan. Jika memungkinkan, karpet akan divacuum secara menyeluruh atau bahkan dicuci jika ada fasilitas yang memadai. Tujuannya sederhana: menghilangkan debu setahun terakhir agar saat sujud nanti, jamaah tidak menghirup kotoran.
Namun, terkadang kerja bakti juga menjadi momen evaluasi. Seringkali ditemukan bahwa meskipun sudah dibersihkan, kondisi karpet memang sudah tidak layak—seratnya sudah habis, warnanya pudar, atau bau apeknya sudah permanen karena usia.
Jika kondisi ini ditemukan saat kerja bakti, biasanya pengurus DKM akan segera bermusyawarah. Mengganti karpet lama dengan yang baru sering menjadi solusi agar Ramadhan kali ini lebih nyaman. Untuk urusan ini, biasanya DKM akan mencari supplier yang bisa memberikan solusi cepat dan berkualitas, misalnya seperti furqona.com yang sering menjadi rujukan pengurus masjid.
Semoga semangat gotong royong membersihkan masjid ini terus terjaga, sebagai wujud cinta kita pada rumah ibadah.
