Archive for Juni 2016
Berbicara soal kekayaan dan keindahan alam Indonesia memang tiada
habisnya. Rasanya setiap ujung yang ada di Indonesia memiliki cerita dan
keindahan tersendiri. Laut dan daratan indonesia telah membentuk suatu
keindahan yang tak jarang negara lain punya.
Salah satu keindahan dan keunikan Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain adalah Indonesia punya desa-desa unik yang sangat kental akan budaya dan sangat menggoda untuk di kunjungi. Sebut saja Desa Wae Rebo yang ada di Flores dan Desa Baduy yang ada di Banten.
Kedua desa tersebut merupakan dua dari banyaknya desa unik yang ada di Indonesia. Desa-desa unik di Indonesia kebanyakan masih mempertahankan nilai kebudayaan dan tak sedikit menolak teknologi yang sekarang ini telah merubah semuanya. Sebagian besar desa-desa unik di Indonesia masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Namun karena itulah desa-desa unik di Indonesia menjadi daya tarik turis untuk datang kesana.
Nah untuk memuaskan rasa penasaran desa unik apa saja yang ada di Indonesia, berikut Lima Desa Unik Asli Ada Di Indonesia seperti yang dikutip dari goodnewsfromindonesia.org:
1. Desa Wae Rebo

Desa unik pertama yang dimiliki Indonesia dan telah mendunia adalah Desa Wae Rebo yang berada di kecamatan Satarmase, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di desa ini setidaknya ada 7 rumah utama yang berbentuk kerucut dengan tinggi dan diameternya yang sama. Rumah unik yang ada di desa ini bisa ditinggali oleh 6 hingga 8 keluarga.
Untuk pemandangan di desa ini tak perlu diragukan lagi, hamparan gunung dan hijaunya alam bisa kita nikmati setiap harinya. Apa lagi letak dan keberadaan rumah kerucut yang tersusun secara melingkar menjadikan sempurna desa Wae Rebo ini.
2. Desa Penglipuran

Bali memang tempat yang sangat terkenal di kancah internasional, banyak wisatawan dunia yang mengakui keindahan yang dimiliki oleh pulau Bali ini. Nah selain pantai yang menjadi andalan pulau dewata. Ternyata Bali juga memiliki sebuah desa unik bernama Desa Penglipuran yang terletak di Bangli. Konon katanya desa ini disebut-sebut sebagai desa paling bersih di Pulau Dewata.
Desa wisata ini memang tak begitu besar, luas desa ini hanya 112 hektar dengan 9 hektarnya dipakai untuk pemukiman. Udara dan keadaan desa ini masih asri serta sangat kental dengan budaya Bali. Rumah berarsitektur Bali tampak berjejer di kiri dan kanan jalan. Pepohonan, rerumputan dan bunga aneka warna pun tampak tumbuh subur. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah keindahan!
Asyiknya lagi, desa ini bebas dari kendaraan bermotor. Anda bisa puas memotret sambil mengenal lebih dekat budaya warga setempat tanpa harus takut kena polusi asap. Biaya masuk ke desa juga terjangkau, yaitu Rp 7.500 per orang.
3. Desa Baduy

Beralih sedikit ke Pulau Jawa tepatnya di Provinsi Banten, nyatanya ada sebuah desa unik yang sangat kental akan budaya tradisionalnya. Desa tersebut bernama Desa baduy. Desa Baduy di huni oleh Suku Baduy. Desa Baduy terbagi menjadi dua yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Bagi Anda yang ingin datang ke desa ini bisa langsung mengunjungi Desa Ciboleger yang menjadi pintu masuk menuju pemukiman Suku Baduy.
Nah bagi Anda yang suka fotografi dan ingin sekali mengambil gambar dari desa baduy, Anda harus menyiapkan stamina. Karena dari Desa Ciboleger harus trekking menuju pemukiman Baduy Luar dan Baduy Dalam selama sekitar 5 jam. Perjalanannya memang melelahkan, namun di sepanjang jalan Anda bisa menikmati udara sejuk dan perbukitan yang mempesona.
Sesampainya di pemukiman Baduy, Anda bisa melihat rumah-rumah mereka yang terbuat dari bambu dan tertata rapi. Sungai yang mengalir di pemukiman ini juga sungguh jernih, karena Suku Baduy sangat menghargai alam. Dari beberapa cabang sungai, yang mereka gunakan sehari-hari hanya satu.
Cabang sungai lain yang airnya jernih bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar serta wisatawan yang datang. Hutannya juga terjaga karena masyarakat Baduy selalu menjaga kebersihan dan tidak merusak hutan.
4. Desa Trunyan

Desa Trunyan merupakan desa yang berada di Kabupaten Bangli, Bali. Jika desa-desa diatas memiliki nilai keindahan yang tiada duanya. Desa Trunyam malah kebalikannya Desa ini dikatakan sebagai desa unik karena budaya dan adat istiadat yang tak biasa masih terjaga di desa ini.
Pemandangan yang hijau di desa ini dilengkap dengan banyaknya tengkorak manusia yang berserakan dimana-mana. Seram pasti, namun hal inilah yang membuat desa Bungli menjadi unik. Desa ini punya kuburan di sisi timur Danau Batur. Di sini, jenazah tidak dikuburkan. Jenazah yang ada dibiarkan saja di atas tanah hingga membusuk. Sungguh berbeda dengan warga Bali lainnya yang mayoritas melakukan upacara Ngaben saat ada orang yang meninggal.
5. Desa Kete Kesu

Hampir sama dengan Desa Trunyan yang ada di Bali Desa Kete Kesu yang terletak di Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini mempunyai keunikan yang tak biasa. Masyarakat di desa wisata ini punya kepercayaan bahwa menguburkan jenazah manusia di tebing batu adalah hal baik. Maka jangan heran jika Anda menyaksikan tengkorak berserakan di berbagai sisi tebing di Kete Kesu.
Di Desa Kete Kesu, ada dua cara pemakaman. Jenazah ada yang ditaruh di gunung batu dan gua alam, atau makam rumah yang disebut patane dalam bahasa Toraja. Saat berlibur ke desa ini, Anda bisa melihat peti mati orang Toraja yang disebut erong. Bentuknya ada yang disimbolkan dengan alat kelamin serta kepala hewan. Kebanyakan erong ini usianya telah mencapai 500 tahun lho!
Berbicara soal kekayaan dan keindahan alam Indonesia memang tiada habisnya. Rasanya setiap ujung yang ada di Indonesia memiliki cerita dan keindahan tersendiri. Laut dan daratan indonesia telah membentuk suatu keindahan yang tak jarang negara lain punya.
Salah satu keindahan dan keunikan Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain adalah Indonesia punya desa-desa unik yang sangat kental akan budaya dan sangat menggoda untuk di kunjungi. Sebut saja Desa Wae Rebo yang ada di Flores dan Desa Baduy yang ada di Banten.
Kedua desa tersebut merupakan dua dari banyaknya desa unik yang ada di Indonesia. Desa-desa unik di Indonesia kebanyakan masih mempertahankan nilai kebudayaan dan tak sedikit menolak teknologi yang sekarang ini telah merubah semuanya. Sebagian besar desa-desa unik di Indonesia masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Namun karena itulah desa-desa unik di Indonesia menjadi daya tarik turis untuk datang kesana.
Nah untuk memuaskan rasa penasaran desa unik apa saja yang ada di Indonesia, berikut Lima Desa Unik Asli Ada Di Indonesia seperti yang dikutip dari goodnewsfromindonesia.org:
1. Desa Wae Rebo
Desa unik pertama yang dimiliki Indonesia dan telah mendunia adalah Desa Wae Rebo yang berada di kecamatan Satarmase, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di desa ini setidaknya ada 7 rumah utama yang berbentuk kerucut dengan tinggi dan diameternya yang sama. Rumah unik yang ada di desa ini bisa ditinggali oleh 6 hingga 8 keluarga.
Untuk pemandangan di desa ini tak perlu diragukan lagi, hamparan gunung dan hijaunya alam bisa kita nikmati setiap harinya. Apa lagi letak dan keberadaan rumah kerucut yang tersusun secara melingkar menjadikan sempurna desa Wae Rebo ini.
2. Desa Penglipuran
Bali memang tempat yang sangat terkenal di kancah internasional, banyak wisatawan dunia yang mengakui keindahan yang dimiliki oleh pulau Bali ini. Nah selain pantai yang menjadi andalan pulau dewata. Ternyata Bali juga memiliki sebuah desa unik bernama Desa Penglipuran yang terletak di Bangli. Konon katanya desa ini disebut-sebut sebagai desa paling bersih di Pulau Dewata.
Desa wisata ini memang tak begitu besar, luas desa ini hanya 112 hektar dengan 9 hektarnya dipakai untuk pemukiman. Udara dan keadaan desa ini masih asri serta sangat kental dengan budaya Bali. Rumah berarsitektur Bali tampak berjejer di kiri dan kanan jalan. Pepohonan, rerumputan dan bunga aneka warna pun tampak tumbuh subur. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah keindahan!
Asyiknya lagi, desa ini bebas dari kendaraan bermotor. Anda bisa puas memotret sambil mengenal lebih dekat budaya warga setempat tanpa harus takut kena polusi asap. Biaya masuk ke desa juga terjangkau, yaitu Rp 7.500 per orang.
3. Desa Baduy
Beralih sedikit ke Pulau Jawa tepatnya di Provinsi Banten, nyatanya ada sebuah desa unik yang sangat kental akan budaya tradisionalnya. Desa tersebut bernama Desa baduy. Desa Baduy di huni oleh Suku Baduy. Desa Baduy terbagi menjadi dua yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Bagi Anda yang ingin datang ke desa ini bisa langsung mengunjungi Desa Ciboleger yang menjadi pintu masuk menuju pemukiman Suku Baduy.
Nah bagi Anda yang suka fotografi dan ingin sekali mengambil gambar dari desa baduy, Anda harus menyiapkan stamina. Karena dari Desa Ciboleger harus trekking menuju pemukiman Baduy Luar dan Baduy Dalam selama sekitar 5 jam. Perjalanannya memang melelahkan, namun di sepanjang jalan Anda bisa menikmati udara sejuk dan perbukitan yang mempesona.
Sesampainya di pemukiman Baduy, Anda bisa melihat rumah-rumah mereka yang terbuat dari bambu dan tertata rapi. Sungai yang mengalir di pemukiman ini juga sungguh jernih, karena Suku Baduy sangat menghargai alam. Dari beberapa cabang sungai, yang mereka gunakan sehari-hari hanya satu.
Cabang sungai lain yang airnya jernih bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar serta wisatawan yang datang. Hutannya juga terjaga karena masyarakat Baduy selalu menjaga kebersihan dan tidak merusak hutan.
4. Desa Trunyan
Desa Trunyan merupakan desa yang berada di Kabupaten Bangli, Bali. Jika desa-desa diatas memiliki nilai keindahan yang tiada duanya. Desa Trunyam malah kebalikannya Desa ini dikatakan sebagai desa unik karena budaya dan adat istiadat yang tak biasa masih terjaga di desa ini.
Pemandangan yang hijau di desa ini dilengkap dengan banyaknya tengkorak manusia yang berserakan dimana-mana. Seram pasti, namun hal inilah yang membuat desa Bungli menjadi unik. Desa ini punya kuburan di sisi timur Danau Batur. Di sini, jenazah tidak dikuburkan. Jenazah yang ada dibiarkan saja di atas tanah hingga membusuk. Sungguh berbeda dengan warga Bali lainnya yang mayoritas melakukan upacara Ngaben saat ada orang yang meninggal.
5. Desa Kete Kesu
Hampir sama dengan Desa Trunyan yang ada di Bali Desa Kete Kesu yang terletak di Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini mempunyai keunikan yang tak biasa. Masyarakat di desa wisata ini punya kepercayaan bahwa menguburkan jenazah manusia di tebing batu adalah hal baik. Maka jangan heran jika Anda menyaksikan tengkorak berserakan di berbagai sisi tebing di Kete Kesu.
Di Desa Kete Kesu, ada dua cara pemakaman. Jenazah ada yang ditaruh di gunung batu dan gua alam, atau makam rumah yang disebut patane dalam bahasa Toraja. Saat berlibur ke desa ini, Anda bisa melihat peti mati orang Toraja yang disebut erong. Bentuknya ada yang disimbolkan dengan alat kelamin serta kepala hewan. Kebanyakan erong ini usianya telah mencapai 500 tahun lho!
Berbicara soal kekayaan dan keindahan alam Indonesia memang tiada habisnya. Rasanya setiap ujung yang ada di Indonesia memiliki cerita dan keindahan tersendiri. Laut dan daratan indonesia telah membentuk suatu keindahan yang tak jarang negara lain punya.
Salah satu keindahan dan keunikan Indonesia jika dibandingkan dengan
negara lain adalah Indonesia punya desa-desa unik yang sangat kental
akan budaya dan sangat menggoda untuk di kunjungi. Sebut saja Desa Wae
Rebo yang ada di Flores dan Desa Baduy yang ada di Banten.
Kedua desa tersebut merupakan dua dari banyaknya desa unik yang ada
di Indonesia. Desa-desa unik di Indonesia kebanyakan masih
mempertahankan nilai kebudayaan dan tak sedikit menolak teknologi yang
sekarang ini telah merubah semuanya. Sebagian besar desa-desa unik di
Indonesia masih mempertahankan gaya tradisionalnya. Namun karena itulah
desa-desa unik di Indonesia menjadi daya tarik turis untuk datang
kesana.
Nah untuk memuaskan rasa penasaran desa unik apa saja yang ada di
Indonesia, berikut Lima Desa Unik Asli Ada Di Indonesia seperti yang
dikutip dari
5 Desa Unik yang Hanya Dapat Ditemukan di Indonesia
Berkunjung ke rumah Allah selalu menjadi impian dari seluruh umat Islam
di dunia. Karena itulah mereka beramai-ramai untuk pergi ke makkah.
Selain itu Ka'bah yang ada di Makkah juga menjadi kiblat bagi umat
muslim untuk melakukan sholatnya dengan benar. Namun tahukah Anda bahwa
sebenarnya ada fakta besar tentang ka'bah yang coba disembunyikan dunia
dari seluruh umat muslim. Untuk itu marilah kita melihat lebih lanjut
mengenai Ka'bah dalam pandangan Islam.
Penjelasan Tentang Ka'bah Dalam Al-Quran
Ka'bah sendiri sesungguhnya diambil dari dalam Al-Quran yang bertuliskan
“Ka’bu”, kata ini sendiri dipercaya memiliki arti “mata kaki” yaitu
pusatnya persendian kaki berputar saat Anda sedang berjalan. Selain itu
Al-Quran di ayatnya 5/6 juga menjelaskan hal tersebut sebagai “Ka’bain”
yang memiliki arti “dua buah mata kaki”. Ada pula ayatnya 5/95-96 yang
menjelaskan bahwa “Ka'bah” sendiri memiliki arti nyata sebagai “mata
dari bumi” ataupun “sumbu dari bumi” maupun kutub putaran dari bumi
bagian utara.
Penemuan Neil Amstrong Mengenai Makkah
Untuk melihat kebenaran tersebut lebih lanjut, mari kita mempelajari
tentang penemuan dari Neil Amstrong saat beliau berhasil pergi ke luar
angkasa dan berhasil mengambil foto dari bumi dengan fakta besar tentang
ka'bah yang coba disembunyikan dunia. Pada saat itu beliau menjelaskan
bahwa bumi terlihat seperti menggantung pada sesuatu dan ada area yang
terlihat gelap. Kemudian peneliti mulai mencari lebih lanjut mengenai
penjelasan ini sehingga menemukan kenyataan bahwa area yang gelap dari
bumi tersebut merupakan semacam radiasi. Hal ini juga segera disebarkan
pada masyarakat melalui internet namun sayangnya halaman web tersebut
kemudian tidak dapat diakses kembali sekitar 3 minggu kemudian.
Apakah Hal yang Coba Ditutupi dari Halaman Website Tersebut?
Ternyata halaman website tersebut mengungkapkan fakta besar tentang
ka'bah yang coba disembunyikan dunia. Dimana menurut penelitian ternyata
radiasi yang dilihat oleh Neil Armstrong tadi berasal dari Makkah atau
tepatnya dari Ka'bah. Mereka juga membuktikan melalui foto yang berhasil
diambil dari mars bahwa radiasi yang dihasilkan tersebut tidak memiliki
ujung atau tanpa batas. Peneliti muslim percaya bahwa radiasi tersebut
digunakan untuk menghubungkan Ka'bah yang berlokasi di bumi dengan
Ka'bah yang berlokasi di akhirat.
Penelitian yang Membuktikan Makkah Sebagai Pusat Bumi
Ada seorang professor yang bernama Hussain Kamel melakukan penelitian
agar dapat mengetahui arah dari Ka'bah dimanapun Anda berada di bumi.
Kemudian beliau menarik garis dari kota besar di dunia ke arah Ka'bah.
Setelah dilakukan maka ditemukanlah fakta besar tentang ka'bah yang coba
disembunyikan dunia bahwa ternyata Makkah adalah pusat dari dunia.
Penelitian dilakukan dengan berbagai garis bujur serta garis lintangnya
yang dihasilkan dari semua benua di dunia, kemudian menggunakan berbagai
macam software dan perhitungan lain selama dua tahun penelitian beliau
dapat membuktikan fakta tersebut.
Menyadari tentang hal ini beliau lalu menggambar sebuah lingkarang dan
menggunakan Ka'bah sebagai titik pusat dari lingkaran tersebut. Hasilnya
beliau dapat menggabungkan semua benua di dunia pada garis keliling
lingkaran tersebut dengan Makkah sebagai pusatnya. Selain itu dalam
Al-Quran juga sudah dijelaskan bahwa Al-Quran tersebut diwahyukan kepada
umat muslim agar Ummul Qura yang merupakan ibu dari kota lain yaitu
Makkah dapat memberi peringatan pada orang di kota lain. Hal ini
menunjukkan fakta besar tentang ka'bah yang coba disembunyikan dunia
bahwa menurut Al-Quran Makkah adalah ibu atau pusat dari kota lain
didunia.
Fakta Besar Tentang Ka'bah yang Coba Disembunyikan Dunia
Kolonialisme telah merambah dunia ketiga (sebutan bagi negara di luar Eropa dan Timur Tengah) sejak berakhirnya perang dunia pertama. Keinginan bangsa Eropa untuk mengembangkan bisnis dan mengeksplorasi dunia membuat mereka sampai di tempat – tempat yang belum pernah mereka jumpai.
Di negeri itu mereka menemukan banyak sumber daya alam yang bisa diambil untuk memperkaya negara mereka.
Itulah wilayah Nusantara, negeri kaya sumber daya alam akhirnya menjadi tempat persinggahan para negara Eropa dengan maksud untuk menguasai sumber daya dan menjadi pemasukan bagi negaranya.
Wilayah Nusantara meliputi negara-negara semenajung Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ditambah lagi dengan negara-negara anggota ASEAN seperti Malaysia dan Singapura. Pengunjung pertama Indonesia pada awalnya adalah Spanyol, kemudian datang Portugis, dan akhirnya Belanda. Hingga pasca perang dunia kedua barulah Jepang yang menginvasi Indonesia. Untuk lebih jelasnya inilah sejarahnya berdasarkan time-line yang menunjukkan proses maupun permulaannya.
Kolonialisasi Spanyol
Spanyol datang ke Indonesia (Nusantara) bermula pada tahun 1521 dengan pelayarannya dan merapat di Sulawesi Utara. Kemudian pada tahun 1960 Spanyol mendirikan pos – pos di Manado. Namun pada awal tahun 1600 , tepatnya 1617 – 1646 Spanyol diusir dari Minahasa (Sulawesi Utara). Dan akhirnya pada tahun 1692 Spanyol berhasil sepenuhnya diusir dari Sulawesi Utara.
Kolonialisasi Portugis
Kedatangan Portugis pertama kali di Nusantara pada tahun 1509, awalnya mereka (Portugis) tiba di Melaka. Dan pada tahun 1595, orang – orang Portugis mulai menarik mundur pasukannya dari Portugis seiring masuknya orang – orang Belanda dibawah komando De Houtman yang berniat memonopoli perdagangan di Indonesia. [Selengkapnya Kolonialisasi Portugis di Wikipedia]
Kolonisasi Belanda
Sejak awal tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, Belanda memanfaatkan perpecahan yang terjadi diantara kerajaan yang terpecah akibat runtuhnya kerajaan terbesar di Indonesia yakni Majapahit.
Kolonialisasi Belanda di Indonesia diperkirakan mencapai 350 tahun atau sepadan dengan 3 setengah abad. Namun dalam kolonialisasinya tidak mencakup seluruh wilayah di Indonesia, melainkan hanya wilayah yang berada di beberapa wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua saja. Contohnya saja Kerajaan Aceh yang senantiasa melakukan perlawanan untuk menolak pengaruh VOC di tanah Aceh.
Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda (Indonesia) tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.
Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.
Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Mulai tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya – baik yang Belanda maupun yang Indonesia.
Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi. Dampak dari Politik Etis ini memberikan kesempatan bagi pribumi untuk mengenyam pendidikan, maka dari itu mereka yang mengenyam pendidikan mempunyai kekuatan untuk melawan. Namun karena kurangnya pendidikan Politik maka pada saat itu para cendikiawan hanya sebatas berargumen namun belum menunjukkan aksinya.
Pendudukan Jepang
Pendudukan oleh Jepang pasca Perang Dunia kedua membangkitkan semangat untuk merdeka bagi Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia sudah terlepas dari cengkraman Belanda yang menindas bangsa Indonesia. Bahkan pada tahun 1942, Jepang menjanjikan pemerintahan bagi Indonesia apabila Indonesia bersedia membantu Jepang.
Pasca perjanjian yang disampaikan Jepang kepada Ir. Soekarno, Jepang kemudian membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada bulan Maret 1945.
Setelah mengalami perundingan yang cukup panjang, BPUPKI yang sebelumnya hanya berfungsi mempersiapkan saja berubah menjadi PPKI yang menjadi awal pembentukan NKRI.
Sebelum kemerdekaan yang dijanjikan oleh Indonesia, Jepang mengalami kekalahan yang memaksa mereka harus mengundur penyerahan kemerdekaan hingga 24 Agustus 1945, hal ini dikemukakan oleh Jenderal Terauchi pada pertemuannya dengan Soekarno dan Hatta pada 9 Agustus 1945.
Namun demikian para golongan muda tidak sabar lagi untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, sepulangnya Soekarno dan Hatta ke Indonesia para golongan muda merencanakan penculikan kepada Soekarno dan Hatta untuk secepat mungkin mendeklarasikan kemerdekaan, dan akhirnya mereka (Soekarno-Hatta) dibawa ke Rengasdengklok dan pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia dinyatakan merdeka !.
Penutup
Pada pembahasan kali ini yang perlu dititikberatkan adalah negara – negara yang menjajah Indonesia, kalau dari awal kolonialisasi Indonesia secara keseluruhan maka dapat kita tarik kesimpulan hanya Portugis dan Belanda yang menjajah secara penuh Indonesia. Hal ini didasarkan pada analisa bahwa Portugis setekah tiba di Melaka, mereka melakukan invasi ke daerah lainnya di Indonesia, bahkan Portugis hampir menjajah selama 1 abad tepatnya 95 tahun di Indonesia.
Sedangkan Belanda sendiri telah menjajah Indonesia selama 350 tahun dan mengeksploitasi sumber daya alam maupun manusia sudah menjadi bukti yang nyata kolonialisasi mereka (Belanda) di wilayah Indonesia. Lain halnya Portugis yang hanya memfokuskan pengusaannya di wilayah Sulawesi Utara saja dan tidak mengekspansi wilayah lainnya yang pada saat itu sistem Kerajaan-nya masih kuat dan sulit ditaklukkan.
Sedangkan Jepang hanya beberapa saat di Indonesia dan tidak bermaksud menjajah secara langsung Indonesia. Dengan demikian kedua negara Eropa tersebut-lah yang menjadi penjajah ‘sebenarnya’ di bangsa Indonesia itu sendiri.
NEGARA NEGARA YANG PERNAH MENJAJAH INDONESIA
Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama.
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur")), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris):
- "... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu)
daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon
(sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu
dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang
menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]
Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. [1]
Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
- "Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari
bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu
Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.
Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia")..
Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau.
Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia")..
Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. [1]
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,
- "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club
pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti
nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong
Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama
"Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah
air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal
28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".
Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".
Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.
Sejarah nama Indonesia
Tidak banyak literatur yang mengulas tentang partisipasi Amerika Serikat
pada salah satu masa paling kelam dalam sejarah Indonesia, yakni pada
medio 1945-1949 saat Agresi Belanda. Pentingnya peran Paman Sam dalam
terselenggaranya invasi militer yang dilakukan kerajaan Belanda kepada
Republik Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945,
telah banyak disertakan dalam jurnal dan tesis sejarawan, salah
satunya H.W. van den Doel, sejarawan Belanda mumpuni yang menyertakan
kebijakan luar negeri AS sebagai salah satu variabel signifikan dalam
dinamika invasi militer Belanda di tanah air.
Dukungan Whasington Untuk Kolonialisme Belanda
Dalam studinya, H.W. van den Doel juga menyebutkan bahwa dukungan
Washington terhadap praktek kolonialisme Belanda di kepulauan Indonesia
telah jauh dicanangkan dari awal tahun 1920, dan masih belum berubah
pada pasca PDII, tak tergoyahkan oleh sentimen anti-kolonialisme yang
mulai menjadi wacana mengemuka di peradaban barat. Prinsip paling
fundamental dari kebijakan luar negeri Amerika yang lebih tinggi dari
‘Sepuluh Perintah Tuhan’, adalah perjuangan suci untuk melindungi
kepentingan AS dan kroni-kroninya di muka bumi. Adalah absurd untuk
mengasumsikan proses kolonialisasi Belanda di Indonesia dapat
berlangsung dengan lancar apabila bertolak-belakang dengan visi
geopolitik Washington. Dengan kata lain, kolonialisme Belanda pra dan
pasca kemerdekaan di tanah air sudah sejalan dan harmoni dengan
kebijakan luar negeri Paman Sam.
Situasi pasca PDII, memasuki era Perang Dingin antara Amerika dan Uni
Soviet adalah faktor utama yang melebarkan jurang perbedaan visi
kebijakan luar negeri Amerika dengan gerakan anti-kolonial di Asia
Tenggara. Setelah Presiden Sukarno memohonkan dukungan ke Washington
pada Oktober 1945, Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri Republik
Indonesia bertemu dengan Harry Truman pada bulan Desember tahun yang
sama untuk kembali memohon bantuan.
Keadaan yang belum disadari para pemimpin muda Republik Indonesia pada
saat itu adalah situasi politik di arena Eropa pasca PDII yang mulai
direpotkan oleh kehadiran musuh baru, yakni partai-partai komunis yang
mulai merebak di Prancis, Itali, Inggris dan Belanda, yang mengancam
kepentingan para pemodal dan pertumbuhan kapitalisme di Eropa. Karena
ini, kebijakan luar negeri administrasi Truman tidak mungkin mendukung
gerakan nasionalis anti-kolonialisme di wilayah koloni Eropa, yang
beresiko untuk memiliki dampak langsung terhadap dinamika politik dan
ekonomi di Eropa. Analisa geopolitik dari Departemen Perencanaan
Kebijakan AS saat itu menilai, bahwa lebih ‘aman’ untuk mendukung
kolonialis Belanda daripada mendukung revolusi politik dan gerakan
nasionalis anti-kolonialisme yang sulit ditebak arahnya (1). Paman Sam
memutuskan untuk mendukung penuh agresi militer sekutunya Belanda
meskipun telah mengumumkan posisi netral dalam konflik tersebut.
Usaha Pemulihan Ekonomi Eropa Setelah PD II
Belanda sendiri, sebagai sekutu yang telah membuktikan kesetiannya
kepada Amerika selama PDII, diberikan dukungan penuh atas legitimasi
kolonialisasi di Hindia Belanda(2), melalui bantuan finansial Marshall
Plan (semacam IMF untuk negara-negara Eropa yang terkena imbas PDII),
salah-satu butirnya menyebutkan agar Belanda menggunakan pinjaman
Marshall Plan untuk membangun kembali perdagangan dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi di Hindia Belanda (Indonesia). Indonesia menjadi
satu-satunya negara koloni Eropa yang tercantum sebagai butir dalam
perjanjian bantuan Marshall Plan, dan dengan ini Belanda menjadi
satu-satunya negara yang mendapat dukungan tertulis dari Amerika
sehubungan dengan klaim atas koloninya di wilayah Asia Afrika. Adalah
penyertaan Indonesia dalam Marshall Plan ini yang melegitimasi Den Haag
untuk melakukan embargo ekonomi terhadap negara kedaulatan Republik
Indonesia.
Amerika Mempersenjatai Belanda Untuk Agresi militer
Washington juga memberikan restu kepada militer Belanda untuk
menggunakan peralatan tempur AS dalam status pinjaman, yang menambah
secara signifikan ranpur Belanda pada agresi militer pasca kemerdekaan.
Pada musim gugur 1945, Sekretaris Negara AS George C. Marshall
memerintahkan untuk mencabut seluruh identitas militer AS yang menempel
pada peralatan dan kendaraan tempur (termasuk pesawat P-47 Thunderbolt,
tank Sherman dan Stuart) yang akan digunakan oleh pasukan SEAC (South
East Asia Command) Lord Louis Mountbatten untuk membantu Belanda
membombardir Surabaya pada 10 November 1945. Pada 30 November 1946,
pemerintah AS secara gratis meminjamkan kepada militer Belanda (melalui
melalui program pinjaman ranpur) 118 pesawat terdiri dari pembom B-25,
pesawat tempur P-40 dan P-51 Mustang, 45 unit tank Stuart, 459 jip
militer, 170 unit artileri, dan persenjataan infantri dalam jumlah yang
sangat besar untuk digunakan untuk ‘menjinakan’ Hindia Belanda. Truk
pengangkut militer dalam jumlah besar, dan logistik dari arena perang
pasifik pun diserahkan oleh Paman Sam kepada Belanda. Militer Belanda
juga diberikan fasilitas untuk melakukan pembelian 65.000 ton logistik
militer non-amunisi (3).
Amerika juga memberikan restu kepada Pemerintah Belanda untuk
mengalokasikan pinjaman sebesar US$ 26.000.000 yang diberikan oleh
Dinas Administrasi Aset Perang AS (WAA) pada Oktober 1947 untuk membeli
senjata dan amunisi demi mendukung kelangsungan kampanye militernya di
Hindia Belanda. Sampai Desember 1948, Amerika masih memboikot
keanggotaan Republik Indonesia dalam Komisi Ekonomi PBB untuk Asia
Timur Jauh (ECAFE), hal yang kemudian menjadi “lampu hijau” bagi
Belanda untuk melancarkan Agresi Militer Jilid II dengan melakukan
serangan kejutan ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948 (4). Boleh
dibilang, agresi militer Belanda pasca kemerdekaan tidak akan dapat
terwujud tanpa bantuan langsung dan restu dari Washington (5).
Pada 17 Desember 1948, Direktur dari Departemen Perencanaan Kebijakan
George F. Kennan berkata, “Salah satu variabel krusial dalam perjuangan
Washington melawan Kremlin adalah masalah Indonesia.” Kennan memberikan
masukan kepada Sekretaris Negara George C. Marshall, bahwa salah satu
elemen vital bagi upaya pelestarian kepentingan AS di Asia dalam
situasi Perang Dingin, adalah penciptaan “Indonesia yang ramah kepada
Amerika” secepat mungkin. Siapapun yang menguasai kepulauan Indonesia,
apakah itu pemerintahan kolonial Belanda, atau pemerintah Republik
Indonesia, tidak boleh dibiarkan untuk membuka pintunya kepada
komunisme (6).
Kiprah Komunis Yang Semakin Menguat
Eskalasi situasi politik antara Washington dan Kremlin mulai memasuki
babak baru sejak akhir tahun 1947 dengan tingkat ketegangan yang
berpotensi berkembang dari Perang Dingin menjadi Perang Panas. Namun
baru pada pertengahan tahun 1949, Washington dipaksa untuk meninjau
ulang seluruh kebijakan luar negeri termasuk masalah kolonialisme di
Indonesia dan Vietnam, dipicu oleh keberhasilan Uni Soviet dalam uji
coba peledakan bom atom pertamanya. Kemenangan revolusi komunis Mao
Zedong yang mengalahkan pasukan nasonalis Chiang Kai Sek makin membuat
Washington seperti kebakaran jenggot, yang berpuncak pada perumusan
ulang seluruh kebijakan luar negeri AS di Asia, dan penerbitan Resolusi
Dewan Keamanan PBB No.68 (NSC 68), yang diciptakan untuk menselaraskan
sikap PBB menyesuaikan dengan strategi global baru dari Washington (7).
Namun yang tak diduga memiliki imbas positif dan berdampak langsung pada
perjuangan anti-kolonialisme, adalah kegagalan Belanda menaklukan
Indonesia pada agresi militer jilid II-nya yang dieksekusi dengan
kekuatan penuh. Kegagalan serangan militer Belanda ke pusat pemerintahan
Republik Indonesia di Yogyakarta ini, membuat Washington mulai hilang
kesabaran, dan kehilangan kepercayaan pada kemampuan Belanda untuk
menyelesaikan ‘pekerjaan’nya di Indonesia. Para analis dan pengambil
keputusan di Washington mulai berhitung dan mengkaji ulang dukungan
Paman Sam pada kampanye militer Belanda yang mahal di Timur Jauh.
Momen yang juga menjadi titik balik krusial yang mempengaruhi dukungan
Washington kepada agresi militer Belanda yang dinilai bertele-tele,
adalah kejadian pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) di kota
Madiun pada 18 September 1948. Soekarno yang dengan segera mengutuk
percobaan coup d’état (kudeta) tersebut, serta merta memberikan
pernyataan yang sangat keras melalui radio, “Bangsa Indonesia harus
memilih! Saya, atau Musso??” (pemimpin pemberontakan PKI di Madiun). Di
mata para pengambil kebijakan di Washington, ini adalah suatu bentuk
demonstrasi keberpihakan dari para pemimpin Republik Indonesia, dan
berpotensi merobah orientasi kebijakan luar negeri AS terhadap konflik
Belanda-Indonesia (8). Di pihak lain, rengekan Den Haag yang
terus-menerus meminta dukungan tanpa disertai progres yang signifikan
mulai menyebalkan terdengar di telinga.
Amerika Serikat Melakukan "Penghianatan" Pada Belanda
Kegagalan agresi militer Belanda jilid II, dan posisi Soekarno terhadap
komunisme, sudah cukup bagi George Kennan dan Departemen Perencanaan
Kebijakan AS untuk memberikan penilaian akhir yang akan mengakhiri
keruwetan di Hindia Belanda, yakni: adalah lebih murah dan ekonomis bagi
Amerika untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, daripada memberikan
dukungan finansial dan ranpur kepada militer Belanda yang ‘memble’ (9).
Dan konsekuensi dari keputusan ini adalah perubahan sikap Amerika yang
drastis di forum Dewan Keamanan PBB pada 27 Desember 1949, ketika
delegasi Amerika dengan terbuka meminta Belanda untuk menyerahkan
kepulauan Indonesia kepada pemerintahan Soekarno (10). Kennan yakin
bahwa Perang Dingin akan lebih mudah dimenangkan menggunakan senjata
ekonomi dari pada militer. Maka, konflik yang berkepanjangan akan
mengganggu hegemoni Kubu Barat di wilayah Timur Jauh, dan proses
perdamaian harus segera di-instalasi untuk segera menciptakan “Indonesia
yang ramah kepada Amerika”, dan memulai proses eksploitasi sumber daya
alam dan manusia (11).
Gelombang demi gelombang kritik, protes, dan ratapan dilayangkan oleh
Belanda dalam kefrustrasian oleh pengkhianatan sang ‘abang’, namun
kesempatan tidak akan diberikan Amerika untuk ketiga kalinya. Keputusan
bulat Paman Sam dibuktikan ketika Duta Besar Amerika untuk PBB Phillip
Jessup bersama delegasi AS memberikan suara untuk sanksi kepada Belanda
oleh Dewan Keamanan PBB (12). Pemberian sanksi ini telah membuat
Belanda menjadi lelucon di Komite Bangsa-Bangsa Dunia di PBB. Bahkan
budayawan Belanda Cees Fasseur mengilustrasikan upaya
militer untuk memperpanjang gelar ‘induk semang’ di Hindia Belanda
sebagai suatu dagelan, dan hanya Amerika yang bisa menarik mereka
keluar dari tragedi yang memalukan ini (13).
Non-Blok Mengecewakan Amerika
Namun apa daya, dukungan Paman Sam kepada kemerdekaan Indonesia dengan
harapan dapat mendirikan pos kekuatan baru yang akan membantu meredam
gelombang komunisme di Asia, punah sudah dengan kebijakan luar negeri
revolusioner ‘non blok’ Soekarno-Hatta yang mengejar posisi netral di
peta politik dunia. Sedikit mereka sadari, bahwa fundamen prinsip dari
Washington adalah “Siapapun yang tidak bersama kita, berarti mereka
lawan kita”. Kekecewaan semakin memuncak ketika Soekarno menerbitkan
kebijakan yang merangkul komunisme pada September 1950, dengan alasan
harmoni sosial dan stabilitas politik. Diperparah dengan semakin
besarnya pengaruh Partai Komunis Indonesia di kancah politik yang
dibiarkan oleh Soekarno. Ini diterjemahkan sebagai tindak pengkhianatan
oleh Washington, dan memposisikan Indonesia sebagai target dari
kebijakan politik agresif (14).
Black Ops Cikal Bakal Gerakan G30S PKI
Pada sebuah dokumentasi yang berjudul FRUS (Foreign Relations of the United States) Jilid
ke-26 yang diterbitkan pada Juli 2001, sebuah pembahasan mendetail
mengenai hubungan politik Amerika dengan Indonesia, Malaysia, Singapur
dan Filipina pada medio tahun 1964-1968. Administrasi Lyndon Johnson
memberikan perintah kepada CIA untuk melancarkan operasi rahasia dengan
kode sandi ‘Black Ops’, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Operasi Hitam’. Black
Ops adalah Joint Operation (operasi gabungan) antara Pentagon dan CIA,
yang memiliki tugas paling vital dan strategis dalam hierarki
intelijen di Amerika, dengan misi-misi yang diembankan antara lain:
pembunuhan kepala negara, mengorkestrasi kudeta, mengatur pemilihan
umum, propaganda dan perang intelijen, semua dengan satu tujuan: yakni
untuk pelestarian kepentingan Amerika dan kroni-kroninya di dalam
maupun luar negeri.
Tugas yang diemban Black Ops kali ini adalah untuk menggulingkan
Soekarno melalui kudeta militer yang dieksekusi pada 30 September 1965
yang diberi kode 'GESTAPU' (Gerakan September Tiga Puluh).
Washington disebutkan melakukan transfer dana sebesar 1.100.000 dollar
Amerika ke beberapa petinggi militer TNI AD untuk mengkoordinir operasi
paramiliter melakukan eksekusi berdarah, yang belakangan disebut
sebagai “pasukan penjagal” oleh surat kabar International Herald Tribune
(15). Pada 2 Desember 1965, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green
memberikan daftar seluruh anggota aktif PKI yang dikompilasi oleh CIA
kepada koordinator keamanan darurat militer. Alhasil, 100.000 sampai
1.000.000 orang diperkirakan tewas oleh kudeta berdarah yang menjelma
menjadi propaganda rezim Orde Baru untuk menyingkirkan lawan-lawan
politiknya. Pada 15 April 1966, sebuah kawat diplomatik Duta Besar
Marshall ke Washington, “keterlibatan kita sangatlah minimal sebagaimana
layaknya operasi Black Ops yang sudah-sudah.”
Dimulainya Cengkraman Amerika Atas Kekayaan Pertiwi
Agenda pertama yang dilakukan oleh Soeharto sebagai PJS Presiden
Republik Indonesia adalah menerbitkan Undang-Undang Penanaman Modal
Asing (UU PMA) tahun 1967 yang secara praktis menggelar karpet merah
dengan memberikan kuasa pertambangan kepada Freeport yang akan
mengangkut kandungan emas terbesar di dunia keluar dari Indonesia
menyisakan sedikit saja bagi anak bangsa, perusahaan minyak Mobil Oil,
Exxon dan Chevron (dulu masih bernama Stanvac dan Vico yang merupakan
anak-anak perusahaan Standard Oil milik Rockefeller) untuk menguasai
blok-blok minyak Cepu, Natuna, Aceh, Papua (secara praktis seluruh
ladang minyak di tanah air), dengan kontrak mati yang selalu
diperbaharui setiap tahun. Agenda politik dari kedatangan Obama ke tanah
air baru-baru ini adalah untuk menekan administrasi SBY untuk
melancarkan re-negosiasi di Blok minyak Cepu yang sempat alot karena
kehadiran rival RRC, dan oleh beberapa nasionalis tanah air yang tobat
nasuha.





